Angin Segar bagi Pekerja dan Kesejahteraan Kampung Tandus

Angin Segar bagi Pekerja dan Kesejahteraan Kampung Tandus

Warga Desa Trimbangan Rasakan manfaat berdirinya Pabrik Rembang

Perasaan Achmad Akhid (46 tahun) lega ketika anak pertamanya yang baru lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) diterima menjadi staf administrasi di pabrik PT Semen Indonesia yang berdiri di kampungnya, Desa Timbrangan, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang. “Baru kali ini ada yang bekerja sebagai staf kantor. Jika tidak ada pabrik, mungkin anak saya harus merantau ke kota untuk bisa mendapatkan pekerjaan semacam itu,” kata Akhid.  “Dulu, mayoritas tenaga produktif pergi merantau mulai dari Surabaya, Jakarta, Palembang, Bali, bahkan hingga ke Kalimantan untuk mencari nafkah dan peruntungan. Namun dikarenakan tingkat pendidikan mereka masih tergolong rendah, maksimal hanya lulusan SMP, jadi yang bisa mereka andalkan hanya tenaga mereka saja. Rata-rata perantau ini kemudian bekerja sebagai buruh bangunan,”  terangnya.

Kepergian tenaga produktif ini menyisakan para wanita, anak-anak, manula serta sejumlah pemuda desa yang lebih memilih menganggur dan nongkrong di pinggir jalan. “Istilahnya disini itu cangkrukan” ujarnya.

Kalaupun ada yang bekerja, biasanya mereka menjadi buruh tambang batu gamping yang digali secara liar, hasil yang mereka terima pun tidak seberapa atau bahkan kurang memadai untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup yang berkesinambungan. “Kini, sejak berdirinya pabrik Semen Indonesia, kami tak lagi merasa kesepian karena para perantau itu telah kembali lagi ke kampung halaman untuk ikut bekerja mendirikan pabrik dan segala kebutuhan pendukung operasionalnya,” demikian dijelaskan Akhid. Mereka menikmati hidup di kampung halaman dan bekerja dengan upah standar untuk hidup yang layak di daerah.

Manfaat yang dirasakan oleh warga Desa Trimbangan sebagai salah satu Desa yang dekat dengan lokasi pabrik Semen Indonesia tidak hanya dari sisi lapangan pekerjaan, namun juga dari program tanggung jawab sosial (CSR) lainnya yang dilakukan Semen Indonesia.  Seperti pembangunan tempat ibadah hingga sumbangan paket sembako yang dijual dengan harga sangat murah.

Di luar itu,  perusahaan juga memberikan peluang bersekolah di Akademi Komunitas Semen Indonesia (AKSI) yang dibuka di tahun ini, melalui program beasiswa bagi generasi muda di desa setempat. “Pendaftaran dan seleksi sudah mulai dibuka dan sudah ada anak desa yang lolos di tahun pertama ini,” kata Akhid dengan senyum yang mengembang.

Kebahagiaan Akhid bisa dimaklumi, mengingat selama ini Desa Timbrangan dikenal sebagai desa yang miskin. Kondisi tanahnya yang tandus membuat para petani mengandalkan tadah hujan untuk mengairi sawah mereka, dan hal ini tak mampu memberikan kesejahteraan pada warganya. Biasanya, warga desa mulai meninggalkan kampung saat usai panen pertama atau memasuki musim kemarau seperti bulan Juni ini.

Kebahagiaan serupa juga dirasakan oleh Sugianto, Kepala Desa Kajar, Kecamatan Gunem, yang lokasinya tak jauh dari Desa Timbrangan. Sugianto merasakan betul manfaat bantuan instalasi air untuk memasok kebutuhan warga Dukuh Wuni yang sebelumnya dikenal sebagai daerah kering. “Kini warga kami bisa menikmati air bersih yang dipasok dari sumber bawah karena kami diberikan mesin penyedot air,” ujarnya.

Sugianto menjelaskan bahwa air tersebut mampu memenuhi kebutuhan hidup warga. Tidak hanya itu, kini mereka juga mampu mengembangkan peternakan mereka karena pasokan air tersedia setiap hari. “Dulu, ternak banyak dijual saat musim kering, kini ketersediaan air membuat kami enggan menjualnya,” tukasnya.

Ia mengakui, selain terserapnya tenaga kerja usia produktif di desanya, ekonomi pun kini mulai menggeliat. Peternakan kambing dan sapi kini mulai berkembang menjadi salah satu sumber mata pencaharian warga. “Saya yakin hadirnya pabrik Semen Indonesia akan mampu membantu kondisi desa kami yang terbelakang dan menjadikannya sebagai desa yang mampu bersaing secara ekonomi dan sosial dengan daerah lain,” ungkapnya. (*/znl)