BERJAYA DI FILIPINA – Kiprah Tim Inovasi SMI di APQC dan Icqcc

Berangkat dengan enam tim, pulang dengan enam medali emas. Prestasi sempurna itu ditorehkan delegasi Semen Indonesia yang bertarung di ajang kompetisi inovasi internasional Asia Pacific Quality Conference (APQC) dan International Convention on Quality Control Circles (ICQCC) di Manila, Filipina, 22-27 Oktober 2017. Tim SS-Flash On yang mengusung inovasi berjudul ‘Mengurangi Frekuensi Gangguan dan Durasi Downtime pada Burner System 492VT5 Pabrik Tuban 2’ berhasil menggondol medali emas ICQCC. Event ini melibatkan 372 tim dari berbagai negara di Asia, antara lain Bangladesh 7 tim, Indonesia (33), India (138), Sri Lanka (5), Taiwan (7), Singapura (11), Thailand (17), China (44), Malaysia (36), Jepang (33), Korsel (42), Mauritius (2), dan tuan rumah Filipina (27). Sukses juga diraih lima tim inovasi SMI yang berlaga di APQC, yaitu GKM-The Sulfur Trap (Mengurangi Frekuensi dan Durasi Gangguan Low Suction Pressure pada Gas Analyzer 441AN2 Pabrik Tuban 1 Sebesar 100 Persen selama 5 bulan), TMM Seven Up (Peningkatan Kapasitas 547RM01 dari 178 TPH ke 220 TPH sebagai Upaya Pemenuhan Kapasitas Produksi Semen Pabrik Tuban 4), dan Eco Zak (Implementasi Kantong Semen 75 gsm-2 ply sebagai Wujud Efisiensi & Solusi Kelangkaan Pasokan Kraft). Dua tim lainnya adalah 5R Merapi Plus (Meningkatkan Produktivitas Kerja dan Kebersihan Lingkungan Kerja melalui Penerapan Budaya 5R di Seksi Packer dan Pelabuhan), serta Bullwhip Effect (Semen Indonesia Managed Inventory System-SI MANIS). “Gold medal merupakan penghargaan tertinggi di ajang internasional tersebut. Salah satu kunci kemenangan kita adalah kematangan metodologi yang diterapkan,” terang Kabiro Manajemen Inovasi SMI Tony Gunawan, Senin (30/10). Kedua, delegasi SMI unggul di tiga mainstream penyajian dalam presentasi, yaitu perumusan masalah, pelaksanaan improvement serta impact inovasi. “Sehingga juri yang berasal dari berbagai negara bisa memahami secara jelas. Tentu saja derajat inovasinya yang memberi kontribusi positif bagi perusahaan juga jadi poin penilaian tersendiri,” sambungnya. Ini bisa dimaklumi, sebab seluruh tema inovasi yang diusung tim SMI sudah lama diaplikasikan di perusahaan. Sukses enam tim SMI ini juga diikuti dua tim Semen Tonasa yang meraih dua medali emas ICQCC, serta Semen Padang yang menggondol dua medali emas APQC. Menurut Tony, capaian bagus di Filipina itu mendatangkan kepuasaan tersendiri bagi jajaran Biro Manajemen Inovasi. Itu merupakan tolok ukur keberhasilan dalam membina dan mengembangkan gerakan inovasi di SMI Group. “Tentu masih ada beberapa hal yang perlu kami sempurnakan lagi, baik mengenai sistem pembinaan maupun kualitas inovasi itu sendiri,” ujarnya. Dikatakan Tony, sebelum berlaga di kompetisi yang berlangsung di Hotel Okada, Manila, tersebut, keenam delegasi SMI telah dibekali presentation skill dan communication skill. Selama tiga bulan mereka digembleng intensif agar cakap presentasi dan tanya jawab dalam bahasa Inggris. “Dalam hal ini kami bekerja sama dengan Learning Center SMI,” ucapnya. Di samping itu, ungkap Tony, yang tak kalah penting adalah penyempurnaan dokumen. Sebab, meski enam tim itu jawara di tingkat internal SMI, bukan berarti langsung memenuhi kualifikasi kompetisi level global. Ada banyak hal yang perlu disesuaikan dan dilengkapi agar mereka layak bersaing dengan para kontestan dari berbagai negara di Asia. Usai APQC dan ICQCC, bulan November depan para inovator SMI sudah ditunggu Indonesian Quality Convention serta Temu Karya dan Produktivitas Nasional (TKPN) 2017 yang dilaksanakan di Medan dan Padang. Sementara kompetisi tingkat internasional baru digelar tahun depan. “Ada tiga agenda internasional, antara lain ICQCC di Singapura dan APQC di Dubai,” tambah M Kharis, staf Biro Manajemen Inovasi. (lin/znl)