Dirut : Ini Situasi Perang

Setelah ditunjuk menjadi dirut SMI pada RUPSLB di Jakarta, pertengahan September 2017, akhirnya Hendi berkesempatan hadir di Gresik untuk kali pertama. Kamis (28/9) siang menerima kedatangan jamaah haji di Wisma A Yani, agenda selanjutnya adalah berkunjug ke kampus UISI (Universitas Internasional Semen Indonesia). Sore harinya Hendi sudah ditunggu para pengurus SKSI (Serikat Karyawan Semen Indonesia) yang dipimpim Ketua Umum Eko Wirantono untuk bersilaturahmi di lantai 9 Gedung Utama SMI. “Terima kasih sudah berkumpul dan menunggu. Senang sekali bisa berkenalan dengan temanteman SKSI,” kata Hendi mengawali pembicaraan, didampingi Direktur Produksi Benny Wendry, Direktur Enjiniring dan Proyek Tri Abdisatrijo, serta Direktur Strategi Bisnis dan Pengembangan Usaha (SBPU) Doddy Sulasmono Diniawan. Hendi mengaku senang begitu mendapat amanah untuk memimpin perusahaan sebesar SMI. Berbagai capaian positif perseroan selama ini membuat dirinya ikut bangga. Namun, mantan dirut PGN (Perusahaan Gas Negara) ini menyadari bahwa situasi sudah banyak berubah. Kurun tiga tahun terakhir persaingan makin ketat dan agresif. Imbasnya adalah pendapatan perusahaan turun, kendati volume penjualan terus naik. “Sepertinya kita sudah masuk dalam kondisi peperangan. Saya sendiri pernah mengalaminya waktu di PGN,” beber lulusan Bachelor of Business Administration, University of Houston, Texas, USA, ini. Tahun 2011-2012, kisah Hendi, di Indonesia hanya ada 7 pemain gas. Tapi begitu dirinya pensiun sebagai dirut pada Juni 2017, jumlah perusahaan yang bergerak di sektor gas alam melonjak jadi 83. Bisa dibayangkan betapa suhu persaingan meninggi dalam waktu relatif singkat. PGN sempat kehilangan pasar sampai 20 persen yang berpindah ke kompetitor. “Jadi kalau peperangan, kita bukan hanya sudah babak belur, tapi berdarah-darah. Alhamdulillah, sebelum kita pensiun pasar yang sempat hilang itu balik lagi,” sebutnya. Banyak kiat yang ditempuh PGN untuk merebut kembali pasarnya, dan semua di luar kelaziman. Sekarang, ketika SMI terjebak pada situasi yang mirip, maka tidak boleh lagi menjalankan bisnis dengan cara-cara biasa. Perseroan harus menjalankan strategi di luar kelaziman dan melahirkan terobosan-terobosan gres. “Ini para penjajah sudah datang, mulai dari China, Taiwan, dan juga Jerman. Bagaimana cara kita menyikapinya, itu yang lebih penting,” tegasnya. Karena itu Hendi berharap seluruh karyawan SMI, termasuk SKSI, membuka pikiran masing-masing, tetap solid serta tidak gampang termakan isu dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Jadikan komunikasi dan dialog sebagai cara pertama untuk menyelesaikan setiap masalah yang timbul. Lebih jauh sosok yang di tahun 2011 berhasil membawa PGN meraup laba bersih Rp 5,93 triliun ini mengingatkan, SMI tidak bisa lagi hanya berjualan semen yang merupakan produk dasar. Faktanya EBITDA margin terus turun, dan belum jelas pula apakah sudah sampai pada the new equilibrium. “Jadi kalau belum mencapai keseimbangan, nanti bisa lebih parah lagi,” tukas mantan direktur Investment Banking PT JP Morgan Securities Indonesia ini. Hendi berkisah, PGN memiliki mitra binaan penenun kain di Garut, Jabar. Sebelumnya para penenun itu menjual produk akhir berupa kain putih dengan harga Rp 100 ribu per bal. Pihaknya lantas menerjunkan desainer papan atas seperti Biyan Wanaatmadja, Hireka Vitaya dan Sebastian Gunawan untuk melatih bagaimana cara membuat pola gambar serta mewarnainya. Walhasil, beberapa tahun kemudian harga kain tenun Garut pun melambung. “Mereka bisa jual kain ukuran 1 x 2 meter ratusan ribu rupiah, bahkan sampai Rp 3 juta. Sekarang kain karya perajin Garut itu malah dipajang di department store di New York,” ucapnya. Hikmah yang bisa diambil, sebut Hendi, bahwa semen sebagai produk dasar harus diberi sentuhan baru agar nilai ekonominya naik. (lin/fir)