(English) Kerja nyata Semen Indonesia dalam pengelolaan lingkungan telah diakui dunia.

Bahasa Indonesia tidak ditemukan For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Awal pekan ini, kita semua disambut dengan kabar yang ngeri-ngeri sedap. Disebut demikian karena pahit dan manis harus kita rasakan bersama, di hari itu juga. Di Jakarta, Dirut Semen Indonesia Rizkan Chandra menyerahkan Certified Emission Reduction (CER) kepada Duta Besar Swedia Johanna Brismar Skoog di kantor Semen Indonesia, Senin (16/1) siang. CER ini merupakan bukti pengakuan Semen Indonesia dalam turut menjaga iklim global yakni lewat pengurangan emisi gas buang di Pabrik Tuban sekaligus kesungguhan menggunakan bahan pengganti bahan bakar fosil (batubara). CER ini dikeluarkan oleh United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) pada 12 Desember 2016. UNFCCC merupakan badan dunia bentukan PBB yang mengurus isu lingkungan dan perubahan iklim. Sebuah bukti bahwa kerja nyata Semen Indonesia dalam pengelolaan lingkungan telah diakui dunia. Ironisnya, kala lembaga dunia mengakui dan memberikan apresiasi atas kerja nyata lingkungan ini, di negeri sendiri, komitmen akan hal ini justru masih ada saja yang mempertanyakan. Pabrik Rembang nanti tak sekadar bentuk monumen fisik saja. Ada banyak aspek di sana. Ekonomi, sosial dan kemasyarakatan yang harus segera diberi kepastian. Cepat dan tuntas itu yang kita tunggu sekarang. Jika berlarut, sudah pasti ini akan menjadi bom waktu. Dari sisi sosial masyarakat, tertundanya pengoperasian pabrik akan membawa kebingungan dan ketidakpastian pada jutaan warga Rembang dan sekitarnya yang sudah telanjur menggantung hidup, harapan dan cita-cita di Pabrik ini. Begitu juga secara ekonomi, keinginan Pemkab Rembang menjadikan Pabrik Rembang sebagai industri katalisator meningkatkan taraf hidup dan menekan angka kemiskinan, sudah pasti tak akan bisa maksimal. Pemerintah pusat pun tak akan lepas dari dampak ini, ketidakjelasan kapan pabrik Rembang beroperasi sudah pasti akan memberi beban finansial pada perusahaan. Nah, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tentu saja beban kerugian ini pun akan turut ditanggung negara juga. Kalau terus dirunut bisa lebih panjang lagi jika ijin baru itu tak segera dikeluarkan. Sembari menunggu proses tersebut, perlu juga kita berharap, agar pengalaman pahit ini, cukup berhenti di Semen Indonesia saja. Jangan sampai perusahaan BUMN lain merasakan hal yang sama. Karena itu, diperlukan komitmen bersama dari semua pihak untuk mematuhi produk-produk hukum yang telah diputuskan. Kenapa? Ini untuk memberi jaminan dan kenyamanan berinvestasi. Tentu akan berabe jadinya bila sebuah ijin yang telah dikeluarkan dan investasi yang telah dikucurkan kemudian masuk dalam lorong ketidakpastian karena ada gugatan di belakang hari. Sekali lagi, cukup Semen Indonesia yang mengalami. Dan, jangan lagi ada BUMN yang mengalami nasib pahit seperti ini di negeri sendiri.