Masih Ada OFI di Semen Domestik

Tiga bulan pertama tahun 2017 menyisakan sejumlah pekerjaan rumah yang harus dituntaskan perseroan. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. mesti berlari lebih kencang dan berpikir kreatif agar kinerjanya semakin membaik. Langkahlangkah itulah yang bakal dirumuskan dalam Workshop Raker Q2 2017 Semen Indonesia yang berlangsung di Learning Center-Leadership Academy, lantai 4, Gedung Pusat SMI, Gresik, 8-10 Mei. Mengusung tema Winning The Competition through Customer Focus, Strengthening Holding and Transformation, workshop tersebut diikuti jajaran direksi seluruh opco SMI, anak usaha dan afiliasi, serta para pejabat eselon satu. Mengawali arahannya lewat video conference, Dirut SMI Rizkan Chandra mengatakan masalah Pabrik Rembang dalam waktu dekat bakal rampung. “Insya Allah kita temukan jalan keluarnya. Saran saya, tolong siapkan sebaik mungkin agar segera bisa melakukan penambangan dan operasi,” kata Rizkan dari Jakarta, Senin (8/5). Karena itu pekerjaan-pekerjaan kecil yang masih tersisa wajib dirampungkan segera, misalnya jalan hauling. Menyoal kinerja perusahaan pada triwulan I, menurut Rizkan, untuk portofolio semen domestik sudah sesuai target. Meski terjadi penurunan industri semen yang cukup signifikan, namun SMI telah mengantisipasinya sejak awal. Perlambatan demand menjadi isu utama para pemain semen dalam negeri. “Karena belum ada pergerakan di sektor ekonomi riil, akibatnya konsumsi semen juga melambat sampai nanti ada pergerakan yang cukup baik di sektor riil maupun retail. Kita harapan itu terjadi tahun ini, sehingga harus dilakukan persiapan- persiapan,” tambahnya. Patut disyukuri, untuk persaingan di kancah domestik SMI selalu menjadi pemenang. Tapi Rizkan mengingatkan, itu saja tidak cukup. “Untuk semen domestik, saya kira kita masih punya OFI, opportunity for improvement (peluang untuk melakukan perbaikan). Baik dari sisi penjualan maupun harga,” sebut mantan Direktur Pengembangan Usaha dan Strategi Bisnis (PUSB). Rizkan mengakui, dari sisi penjualan, capaian pada triwulan I memang sesuai target. Tapi perlu didalami lagi, barangkali di beberapa area yang penjualannya mengalami pertumbuhan masih bisa ditingkatkan lagi. Atau, daerah-daerah yang memungkinkan dilakukan kenaikan harga, bisa dipertimbangkan untuk melakukan eksekusi. Terpentin dari semua itu, tegas Rizkan, seluruh insan SMI Group harus meyakini ‘khasiat’ cost transformation (CT). “Bahwa dalam situasi industri persemenan seperti ini, cost transformation- lah yang bisamenyelamatkan portofolio semen domestik, sehingga tidak terjun bebas. “Ini yang mesti kita lakukan bersama-sama dengan cara-cara yang luar biasa, out of the box, untuk mengimbangi turunnya harga dan demand. Ingat juga, harga energi juga naik,” terang lulusan Teknik Informatika ITB serta Management of Technology dari National University of Singapore ini. Dalam situasi seperti sekarang,harapan khusus ditumpukan pada Semen Gresik agar menjadi penguasa di wilayah Jawa bagian barat. Menjadi yang terbaik dalam arti market share. Artinya, kata Rizkan, “Barang harus kita penuhi sebanyak mungkin. Mana diproduksi siapa pun nggak masalah, tapi Semen Gresik harus menjadi merek yang paling dicari di Jawa bagian barat.” Wilayah yang bisa disebut ‘kandang macan’ ini belum pernah disentuh dengan caracara yang sistematis. Tahun ini manajemen Semen Gresik sudah melakukan upaya-upaya agar menjadi yang terbaik di kawasan tersebut. “Ini harus jadi salah satu yang mewarnai perjalanan portofoloio semen domestik kita di 2017,” ingat Rizkan. Tahun ini pula, kata Rizkan lebih jauh, sedang dilakukan upaya-upaya konsolidasi agar SMI mempunyai basis produksi di Jawa bagian barat, di samping Cement Mill di Cigading, Jawa Barat. Untuk perkembangan portofolio di luar semen domestik, pada triwulan I ini masih jauh dari harapan. Karena itu harus menjadi salah satu fokus utama dalam workshop kali ini. Kepada seluruh peserta workshop, Rizkan berpesan agar memulai dari mindset yang sama. Ada dua mindset yang dia kemukakan, pertama hasil penelitian di Harvard University, AS, bahwa perusahaan yang menerapkan corporate culture dengan sangat baik itu mengalami pertumbuhan beratus-ratus kali lipat dibanding perusahaan yang tidak focus pada corporate culture. “Ini saya kira PR untuk Pak Agung (Yunanto, Direktur SDM dan Hukum), agar kita bisa memahami corporate culture kita seperti apa. Sehingga nanti bisa melakukan langkah-langkah yang out of the box, lebih kreatif dalam mencari solusi di tengah situasi pasar yang belum menguntungkan,” paparnya. Mindset kedua, sebut Rizkan, seseorang yang berpikiran positif akan selalu mencari opportunity di setiap problem. Sebaliknya, mereka yang berpikir pesimistis selau mencari masalah di setiap opportunity. Sebut saja situasi industri semen domestik yang sedang mengalami perlambatan. (lin/znl/bwo)

Source : GAPURA