Menjawab Disrupsi Lewat Inovatif Leadership

Zaman sudah berubah dan akan terus berubah. Begitu pula di dunia bisnis, datangnya era disruption membuat sejumlah pemain papan atas yang dulu populer menjadi megap-megap. Misalnya Kodak, yang pertama kali mengenalkan kamera digital, kini makin dilupakan konsumen. Hal sama terjadi dengan Nokia yang dulu merajai pasar smartphone, serta sejumlah merek lokal yang tak kuasa menghadapi inovasi-inovasi perusahaan kompetitor. Direktur SDM dan Hukum Semen Indonesia Agung Yunanto mengingatkan, disrupsi juga terjadi di industri semen. Itu ditandai dengan melonjaknya jumlah pemain, dari hanya 5 – 6 perusahaan menjadi 15-16 perusahaan. Beberapa di antara mereka adalah perusahan kelas dunia yang punya source tidak terbatas. “Jadi kalau Semen Indonesia Group tidak melakukan perubahan, ini akan bahaya. Perubahan ini tidak hanya di level perusahaan, namun juga di level individu-individu,” kata Agung saat menjadi keynote speaker Leader Café di Auditorium Pabrik Tuban, Kamis (19/10). Kegiatan yang jadi rangkaian Pekan Knowledge Management (PKM) Semen Gresik ini dihadiri Dirut SG Gatot Kustyadji beserta jajaran direksi, pejabat eselon satu, serta ratusan karyawan. Agung Yunanto melanjutkan, era disrupsi adalah gangguan yang didominasi oleh perubahan akibat perkembangan teknologi. “Terutama teknologi yang berbasis internet atau digital. Itu mengganggu perusahaan yang lamban melakukan inovasi atau merespons perubahan,” sebutnya. Tantangan SMI Group di era ini sangat berat, sebagai dampak masuknya beberapa kompetitor level global. Dengan modal luar biasa, baik dari sisi finansial maupun SDM, mereka enteng saja melempar produk harga murah ke pasar Indonesia. “Karena itu tidak akan berdampak besar pada perusahaan,” ujar sosok kelahiran Bandung, 7 Mei 1962 ini. Lantas, gaya kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan perusahaan untuk menghadapi era disrupsi? Agung menjawab, dari sisi human capital, ada dua hal penting untuk meningkatkan daya saing perusahaan, yaitu knowledge management (KM) dan leadership. Namun, gaya kepemimpinan yang ditunjang KM bisa memastikan performa perusahaan dalam kondisi baik secara berkesinambungan. Dalam situasi yang terus berubah, beber Agung, ada tiga lingkaran saling terkait yang bisa dijadikan pedoman seorang pemimpin. Pertama passion, lalu leader, serta competence. Seorang pemimpin harus punya passion yang kuat, karena dia tergolong public figure. “Jangan sampai waktu masuk ruangan terlihat lemes. Sebagai pemimpin harus punya passion yang kuat untuk memimpin, dan punya kemampuan untuk mempengaruhi,” tegas dia. Leader juga harus bisa menciptakan suasana yang tetap fokus pada sense of urgency bagi tim. Ketiga, lanjut Agung, membuat para karyawan merasa penting. “Karyawan mesti di-uwongne sehingga merasa berarti buat perusahaan,” cetus dia. Muara dari tiga prinsip kepemimpinan itu adalah legacy. Persisnya, sebagai pemimpin kita ingin dikenang sebagai apa? Atau, meninggalkan warisan apa buat perusahaan? “Setiap leader di manapun levelnya harus membangun legacy yang bisa dikenang saat pensiun nanti. Kita ingin, kelak leader di SMI Group bisa membangun legacy level nasional,” tutur mantan GM Human Capital PT Wijaya Karya Beton ini. Dikatakan Agung, ada beberapa tipe kepemimpinan yang dikenal selama ini. Mulai transformational leadership, karismatik leadership, inovatif leadership, digital leadership, dan sebagainya. Namun, merujuk survei yang dia lakukan, yang paling pas untuk menghadapi era disrupsi adalah inovatif leadership. “Leader yang berbasis inovasi selalu mendorong timnya untuk menciptakan inovasi-inovasi baru. Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Makanya saya selalu mendorong, ayo kita berubah, ayo kita cari yang terbaik,” tuntas Agung. (lin/bwo)