Menteri Rini: BUMN Mesti Makin Sadar Peran Marketing & Branding

Menteri BUMN Rini Soemarno menegaskan untuk mendorong kontribusi keuntungan, BUMN mesti makin sadar dengan peran marketing, branding, dan pelayanan konsumen. Untuk itu, BUMN perlu secara kontinyu mengubah mindset dan memperkuat sinergi agar dapat memberikan sumbangsih terbaik bagi bangsa dan negara. “Tahun 2016, kontribusi keuntungan seluruh BUMN mencapai Rp 164 triliun. Tahun 2017, kami menargetkan angka itu naik menjadi Rp 205 triliun. Karena itu, BUMN mesti makin sadar peran marketing, branding, dan pelayanan konsumen dengan tujuan agar keuntungan makin meningkat dan memberikan dampak kesejahteraan bagi masyarakat luas,” kata Menteri BUMN Rini Soemarno dalam keynote speech acara BUMN Marketing Day 2017, di Jakarta, Rabu (3/5). Menurut dia, dalam perjalanan pemerintahan Jokowi-Jk selama 2,5 tahun masih banyak disruption yang terjadi di BUMN. Padahal, BUMN merupakan salah satu ujung tombak agen pembangunan pemerintah. “Program sinergi BUMN perlu makin diperkuat dengan kesadaran peran marketing dan branding, sehingga dapat melayani konsumen secara luas,” paparnya. Dia mencontohkan pada 2014, bankbank BUMN saling berkompetisi secara ketat dan para direksinya enggan berkomunikasi satu dengan lainnya. Hasilnya tidak ada sinergi dan justru persaingan makin runcing. “Kini dengan perkuatan sinergi BUMN, masing-masing bank BUMN bersama Himbara membuat program bersama dan pada akhir 2017 akan ada ATM bersama khusus bank BUMN,” ucapnya. Ahmad Bambang, Staf Khusus Menteri BUMN bidang Marketing dan Logistik, menambahkan salah satu penghambat pertumbuhan BUMN adalah masih banyaknya disruption (gangguan) seperti perilaku takut ambil resiko, merasa nyaman, dan tidak mau berubah. “Banyak BUMN punya brand namun awarenessnya lemah. Kita kurang berani ambil resiko, selain itu di sisi implementasi dan eksekusi masih kurang, ini kelemahan kita,” katanya. Karena itu, lanjut dia, perubahan dalam tubuh BUMN perlu mengadopsi tiga unsur utama, yakni 1) culture change. 2) inovation, creation, and speed. Juga 3) konsep gagal – ulangi, salah – perbaiki. “Untuk melakukan perubahan terutama di sisi marketing, perlu adanya perubahan mindset,” ungkapnya. Dia mencontohkan perubahan di anak usaha BUMN PT Telkomsel yang semula hanya perusahaan operator telekomunikasi, kini menjadi perusahaan berbasis digital. “Kami juga mencermati PT Garuda Indonesia Tbk yang mestinya dari perusahaan penerbangan masuk ke perusahaan transportasi secara luas. Karena jika tidak begitu, Garuda bisa tersaingi jika kereta cepat terealisasi,” paparnya. Di sisi marketing yang lebih teknis, Ahmad mencontohkan Pertamina sangat bergantung kepada distributor dalam menjalankan bisnis pelumas. Mestinya proses bisnis itu dilakukang langsung ke konsumen akhir sehingga dapat menumbuhkan nilai tambah. “BUMN butuh direct marketing agar lebih mengenal konsumen akhir, bagaimana kebutuhannya dan dari situ bisa ditumbuhkan value added,” tuturnya. (dry)

Source : GAPURA