Misi Asing dan Ancaman Kerugian Rp 29,36 T

Publik menganggap masalah Pabrik Semen Rembang adalah masalah korporasi biasa dan hanya berhitung jika tidak beroperasi maka Semen Indonesia atau Negara akan kehilangan biaya investasi Rp 5 triliun. Kemudian jika Semen Rembang bisa beroperasi maka nilai investasi Rp 5 triliun akan kembali seiring keuntungan yang diraih Semen Rembang. Publik lupa bahwa “sinetron” penolakan pabrik Semen Rembang telah menghancurkan reputasi Semen Indonesia di mata investor sehingga nilai sahamnya turun dibawah kewajaran. Pada tahun 2013-2014 Semen Indonesia adalah perusahaan nasional yang mampu mengalahkan reputasi Indocement yang dimiliki Heidelberg Jerman dan Holcim yang dimiliki Swiss. Enterprise Value Semen Indonesia jauh diatas kedua perusahaan semen asing, bahkan dalam beberapa kali Semen Indonesia mendapatkan penghargaan sebagai perusahaan idaman investor. Maka di tahun 2013-2014 harga saham Semen Indonesia sempat menyentuh angka Rp 18 ribuan. Hal ini menunjukkan tingginya kepercayaan investor saham pada kemampuan Semen Indonesia untuk tumbuh berkelanjutan dimasa mendatang. Namun sejak tahun 2017 harga saham Semen Indonesia selalu dibawah Rp 10 ribuan. Pada tanggal 13 April 2017 bahkan hanya Rp 8.875,- dan harga saham tanggal 26 April 2017 sebesar Rp 9.000,-. Pemerintah dan masyarakat Indonesia tertipu dengan strategi asing yang sangat cerdik. Saat Pemerintah, DPR, dan masyarakat hanya fokus pada Pabrik Semen Rembang beroperasi apa tidak?, Investasi Rp 5 triliun hilang apa tidak? Sesungguhnya Pemerintah telah kehilangan uang yang sangat besar di Semen Indonesia. Semisal Semen Indonesia pada tanggal 13 April 2017 di jual, maka dengan market capitalization yang hanya Rp 56 triliun, dengan saham 51 persen maka Pemerintah hanya dapat uang Rp 28, 56 triliun. Padahal jika dijual di tahun 2014 dengan harga saham Rp 18 ribu atau market cap Rp 113 triliun, dengan saham 51 persen Pemerintah akan dapat uang Rp 57,92 triliun. Ada selisih kehilangan uang sebesar Rp 57,92 triliun – Rp 28,56 triliun = Rp 29,36 triliun. Tidak dalam kondisi dijual, maka kekayaan Pemerintah Indonesia sesungguhnya sudah berkurang, bukankah setiap tahun ada penghitungan kekayaan negara, maka saham adalah salah satu kekayaan negara yang dihitung berdasarkan nilai pasar (market value). Kekayaan negara menjadi acuan untuk menghitung “bunga surat utang negara” yang diterbitkan Pemerintah, artinya jika kekayaan negara kecil maka beban bunga akan tinggi. Sama seperti perusahaan meminjam kredit dari bank, jika perusahaan punya simpanan/ deposito yang besar di bank tersebut maka akan mengurangi tingkat risiko bank. Sehingga tingkat risiko yang dimasukkan dalam komponen bunga bank akan rendah, maka bunga kredit akan rendah pula. Coba seandainya semua BUMN jagoan, di “kerjain” seperti Semen Indonesia maka ribuan triliun uang negara berpotensi lenyap. Atau jika tidak lenyap, maka beban bunga surat utang negara akan naik terus. (arif hermawan)