Permintaan Semen Bakal Terus Naik

Permintaan semen nasional akan terus naik.   Menilik data bulan  Mei lalu,  permintaan semen naik 7 persen menjadi 5,47 juta ton berkat pemulihan sektor properti dan pengerjaan proyek infrastruktur. Permintaan semen kumulatif periode Januari—Mei 2017 mencapai 25,26 juta ton, atau naik 4,1 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia Widodo Santoso menyatakan kenaikan permintaan bukan hanya terjadi di pasar domestik, tapi permintaan semen juga melonjak di pasar ekspor. “Penjualan semen baik di pasar domestik dan ekspor naik 5,5 persen,” ujar Widodo.

Ekspor semen pada Mei menembus angka 225.000 ton, atau naik 60  persen yoy. Volume ekspor secara kumulatif Januari—Mei 2017 mencapai 1,14 juta ton. “Ekspor semen tahun ini mudah mudahan bisa menembus target 2,5 juta ton,” kata Widodo.

Pada perkembangan terpisah, kapasitas produksi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. bakal bertambah menjadi 40 juta ton hingga 42 juta ton pada 2021. Penambahan ini didukung oleh dua pabrik baru yang tengah dibangun perseroan.

Corporate Secretary Semen Indonesia Agung Wiharto mengatakan dua pabrik baru berada di Pidi, Aceh dan Kupang yang bakal mulai beroperasi pada 2020 dan 2021. “Saat ini kami ada 34 juta ton untuk Semen Indonesia Grup, bisa sampai 40 juta ton sampai 42 juta ton di 2021 untuk kapasitas terpasang,” ujarnya.

Pembangunan kedua pabrik tersebut bertujuan memotong rantai distribusi. Perseroan membangun pabrik baru di wilayah yang selama ini sulit dijangkau karena jarak yang terlalu jauh dari pabrik. Dengan kapasitas produksi Semen Indonesia Grup sebesar 34 juta ton, pangsa pasar emiten dengan kode saham SMGR ini mencapai 41,7 persen untuk industri secara nasional.

Agung menuturkan penambahan kapasitas menjadi 40 juta ton hingga 42 juta ton pada 2021 belum tentu mempertahankan pangsa pasar. Pasalnya, pangsa pasar dipengaruhi oleh pertumbuhan industri semen secara nasional. “Kalau tumbuhnya 5—6 persen per tahun kami tetap. Kalau tumbuh 10 persen, kami harus menambah kapasitas,” ujarnya.

Sumatera Barat menjadi provinsi dengan pangsa pasar Semen Indonesia paling besar, hampir mencapai 100 persen, disusul oleh Jawa Timur sebesar 75 persen. Pada tahun ini, sejatinya perseroan juga memperkirakan adanya penambahan produksi semen sebesar 1 juta ton pada tahun ini apabila operasional pabrik di Rembang dapat dimulai pada kuartal III/2017.

Agung mengatakan pabrik Rembang sejatinya sudah mulai beroperasi sejak tahun lalu, tetapi masih dalam tahap percobaan dan semen produksinya hanya masuk ke proyek. Pihaknya berharap pada bulan ketujuh tahun ini dapat mulai beroperasi secara komersial, seraya menunggu penelitian lebih lanjut dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait wilayah penambangan.

“Kami punya 14 juta ton di Tuban, kalau ada tambahan dari Pabrik Rembang yang kapasitasnya 3 juta ton, ya tahun ini kira-kira satu juta lah karena pabrik baru beroperasi mulai pertengahan tahun dan itu pabrik baru. Kalau separuh total produksinya 1,5 juta ton, diambil 70 persen, bisa menambah 1 juta ton,” katanya. (znl/*)