SMI D’Forum-Targetkan Material Pengganti 10 Persen

Direktorat Produksi PT Semen Gresik menggelar focus group discussion (FGD) bertajuk SMI D’Forum membahas material alternatif pengganti tanah liat, di Ruang Wijaya Kusuma Kantor Pusat Semen Gresik (KPSG), Rabu (10/5). FGD yang dibuka oleh Kepala Departemen Produksi Bahan Baku, Musiran, ini digelar untuk mengidentifikasi potensi pemanfaatan Bahan Baku Alternative pengganti Clay beserta resiko pemanfaatan dan tindakan mitigasi yang harus dilakukan. Sekaligus mengevaluasi pemanfaatan bahan baku alternatif pengganti tanah liat yang telah dilakukan saat ini. Empat departemen terkait terlibat langsung dalam FGD ini. Keempatnya adalah Departemen Bahan Baku Produksi, Departemen QSHE, Departemen Litbang, Proses & Teknologi hingga Departemen Produksi Terak. Berlangsung satu hari penuh, FGD lintas departemen ini menyepakati sejumlah poin penting yang tertuang dalam commitment agreement. Target penggunaan material alternatif di Pabrik Tuban hingga 10 persen menjadi poin utama dalam kesepakatan tersebut. Untuk menunjang target ini, Departemen Litbang, Teknologi & Proses akan melakukan kajian komprehensif terkait penggunaan material alternatif sebelum diimplementasikan di Pabrik Tuban serta menjamin ketersediaan material tersebut. Terdapat 2 material alternatif utama yang menjadi fokus pembahasan, yaitu fly ash & bottom ash (FABA) yang ditargetkan dapat menggantikan tanah liat minimal 10 persen. Sementara material alternatif lainnya COCS yang merupakan tanah terkontaminasi limbah minyak bumi pada aktifitas pengeboran jumlahnya masih dalam evaluasi. Terbatasnya bahan baku dari sumberdaya alam menjadi dasar inisiatif peningkatan target prosentase penggunaan bahan baku alternatif. Hal ini perlu dilakukan sebagai langkah efisiensi bahan baku guna memperpanjang usia tambang. “Untuk itu perlu mencari material bahan pengganti yang pas secara kualitas dan kuantitas,” tutur Kepala Departemen Produksi Bahan Baku, Musiran. Penggunaan bahan baku alternatif tersebut menurut Musiran tidak memerlukan modifikasi besar pada equipment. “Kalau peralatannya tidak memerlukan modifikasi besar, tapi yang dipersyaratkan adalah material yang masuk harus sesuai alat yang ada. Jadi bukan alatnya itu dimodifikasi, namun materialnya yang kita sesuaikan. Misalnya kadar airnya harus 22 persen, kemudian agar sesuai dengan kimiawinya maka kalorinya maksimal 800 kkal,” jelasnya. Selain sebagai langkah efisiensi bahan baku, penggunaan bahan baku alternatif ini sekaligus untuk mewujudkan visi perusahaan sebagai pabrik semen yang berwawasan lingkungan eco green dengan membantu pemusnahan limbah B3 dari industri lain melalui proses insinerasi. Insinerasi adalah melakukan pembakaran materi limbah menggunakan alat khusus incinerator dengan efisiensi pembakaran harus mencapai 99,99% atau lebih. Artinya, jika suatu materi limbah B3 ingin dibakar (insinerasi) dengan berat 100 kg, maka abu sisa pembakaran tidak boleh melebihi 0,01 kg atau 10 gr. Seperti diketahui selama ini perusahaan menggunakan fly ash & bottom ash (FABA) dan COCS yang merupakan limbah dari industri lain sebagai bahan baku alternatif pengganti tanah liat. Saat ini penggunaan bahan baku pengganti dikatakan Musiran baru berkisar 7 persen, dengan tren yang terus meningkat. “Februari lalu kita baru menggunakan 3 persen, Maret hingga April meningkat jadi 7 persen. Bulan ini (Mei) kita targetkan minimal 10 persen. Ijin yang kita miliki sebenarnya hingga 40 persen bahan baku alternatif,” jelasnya. Untuk memenuhi target ini perusahaan tengah mencari sumber material alternatif lain serta menyiapkan storage khusus. Selain itu, saat ini tengah berjalan proyek pembangunan transport material alternatif berupa belt conveyor dari storage Tuban 2 ke Tuban 3. Penggunaan bahan baku alternatif ini menurut Musiran juga sejalan dengan kebijakan cost transformation perusahaan. Konsep polluter pay yang digunakan dalam pemakaian bahan baku alternatif disebutnya menjadi pendapatan lain-lain bagi perusahaan. “Dengan konsep polluter pay, pemilik limbah harus membayar kepada kita untuk memusnahkan limbah. Ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi perusahaan,” ungkapnya. Dari catatan litbang, penggunaan bahan baku alternatif dengan konsep polluter pay selama tahun 2017 telah menghasilkan pendapatan hingga Rp 6,89 miliar. Ketersediaan material alternatif menjadi tantangan tersendiri dalam penggunaan bahan baku pengganti ini. (bwo)