SMI Perlu Ubah Visi 2030-Rizkan: Be A Leading International Building Material Company

Bahasa Indonesia tidak ditemukan For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Tahun 2015 menjadi masa-masa sulit bagi industri semen domestik, diwarnai dengan masuknya sejumlah pemain baru serta oversupply. Di luar dugaan, tantangan yang muncul di tahun 2016 ternyata jauh lebih sulit. Dan, situasi pelik itu diprediksi masih akan berlangsung sepanjang 2017.
Menyikapi kondisi tersebut, Direktur Utama Semen Indonesia Rizkan Chandra mengajak seluruh jajarannya untuk berubah. “Sekarang ini tidak ada pekerjaan yang susah,yang ada susah sekali,” ingat Rizkan saat menjadi pemateri dalam rapat kerja perusahaan tahun 2017 PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Wisma A Yani, Gresik, Senin (23/1).
Dalam raker bertajuk ‘Winning The Competition through Customer Focus, Strengthening Holding and Transformation’ itu, Rizkan banyak mengupas tantangan, peluang dan strategi perusahaan agar tetap jadi pemenang.
Kata dia, strategi 3 + 1 yang meliputi cement business, adjacent portofolio serta regional expansion yang didukung cost transformation harus terus dipertajam.
Namun, karena bisnis SMI kini bukan hanya semen, dia pun menggarisbawahi visi To be A Leading International Cement Company in Southeast Asia sebagai satu hal yang tidak lagi relevan. Seiring langkah perseroan yang makin menyeriusi bisnis hilir, maka visi 2030 itu sudah selayaknya diubah menjadi To be A Leading International Building Material Company in Regional. “Regional di sini bukan Asia Tenggara, tapi akan kita define sendiri sesuai suplly chain kita,” bebernya.
Rizkan lantas mengupas tren industri semen domestik tahun 2015 dan 2016 yang diwarnai penururunan growth. Situasi kurang menggembirakan ini membuat bisnis SMI mengalami penurunan 0,7 persen di tahun 2015, sehingga market share tergerus dari 43,7 menjadi 41,9 persen. Tahun berikutnya situasi masih berat, sehingga bisnis perseoran anjlok sampai 1,1 persen.
Toh, di tengah situasi kurang menguntungkan itu, SMI berhasil menjalankan program cost transformation hingga menghemat dana Rp 1,5 triliun atau 108 persen dari target yang dicanangkan. Prestasi ini mendapat apresiasi positif dari Dewan Komisaris SMI, seperti diungkapkan Komut Mahendra Siregar.
Hal lain yang juga diapresiasi adalah keberhasilan mengendalikan market share di angka 41,7 persen, atau -0,2 persen di tengah penurunan pertumbuhan semen nasional -0, 7 persen. “Di antara top three—SMI, Indocement dan Holcim–kita masih yang terbaik. Tapi ingat, lawan kita nanti bukan mereka karena peta segera berubah lagi,” sambungnya.
Tak heran kalau Rizkan mengajak segenap keluarga besar SMI Group untuk terus beradaptasi dan memperkuat budaya inovasi. Sebagai contoh, mantan Direktur Pengembangan Usaha dan Strategi Bisnis ini menunjuk Yahoo, sebuah perusahaan mesin pencari (search engine) dan periklanan yang didirikan Jerry Yang dan David Filo tahun 1995. Setahun berikutnya datang Google yang juga mulai dengan search engine. “Yahoo beranggapan tumbuh dari dalam sudah cukup,” cetusnya.
Sebaliknya, Google mulai berubah dari marketing company menjadi telecomunication  company. Setelah itu Google makin meraksasa, sementara Yahoo menjadi terpuruk. Alhasil Yahoo yang semula bernilai 100 miliar dolar AS, dijual dengan harga tak sampai 5 miliar dolar AS. “Yahoo melewatkan kesempatan menjadi raja karena sudah puas dengan apa yang didapat. Apakah kita ingin seperti mereka? Jelas tidak,” tegasnya.
Menurut Rizkan, dalam bisnis terdapat dua jenis perubahan, yaitu turn around (putar haluan) dan transformation. Turn around artinya melakukan perubahan tapi masih dalam portofolio yang sama. Sementara transformasi sudah go beyond dari portofolio yang existing. SMI bakal melakukan turn around karena semennya masih dominan, dan masih akan dominan dalam beberapa tahun ke depan.
“Tidak ada opsi lain, tahun 2017 kita berada di channel transformation atau CHT commander cialis sur internet. Ada tiga hal yang harus kita lakukan, yaitu Customer focus, strentghening Holding, serta Transformation (CHT),” ungkap Rizkan seraya mengingatkan bahwa customer SMI nanti bukan lagi distributor.
Sekali lagi dia menegaskan, pertumbuhan bisnis semen hanya bisa terjadi kalau kita melakukan cara-cara yang luar biasa. Misalnya mengkonsolidasikan semen domestik, yang penting merek SMI tetap yang paling besar. Langkah itu bakal meningkatkan revenue, meski marginnya tidak sebesar kalau memproduksi sendiri. “Maka opsi yang lebih tepat adalah mengkonsolidasi secara permanen, yaitu melakukan akuisisi,” tutup Rizkan dalam raker yang dihadiri Komut SMI Mahendra Siregar, Komisaris Wahyu Hidayat, komisaris dan direksi seluruh opco, serta para karyawan eselon satu tersebut. (lin/znl/bwo)