Teknologi Pertambangan Pabrik Rembang Tak Rusak Lingkungan

Teknologi pertambangan yang dipakai Semen Indonesia di Pabrik Rembang dipastikan aman dan tak merusak lingkungan. Penegasan ini diberikan Dr Budi Sulistijo, pakar hidrogeologi, geologi eksplorasi dan lingkungan ITB. Jaminan aman ini karena Semen Indonesia hanya menambang di zona kering atau zona karst bagian atas yang tidak ada airnya. Di bawah zona kering barulah terdapat zona transisi dan zona jenuh yang mengandung air. Penambangan menggunakan konsep zero runoff, atau air hujan tak lari dari areal penambangan dan justru bakal tertampung di areal lahan yang sudah ditambang dan berbentuk seperti waduk atau embung. “Penambangan di areal Izin Usaha Penambangan (IUP) Semen Indonesia hanya akan menambang sampai maksimal 80 meter dari permukaan. Padahal di areal itu, pengeboran hingga 150 meter belum ditemukan adanya air,” tandasnya saat menjadi pembicara dalam diskusi panel yang digelar ITB Bandung. Diskusi bertema “Isu dan Solusi Sistem Hidrogeologi di Daerah Penambangan Batugamping”. Acara ini diselenggarakan oleh Perhimpunan Air Tanah Indonesia (PAAI) bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung di Hotel Grand Tjokro Bandung pada Kamis (27/04) lalu. Selain Dr Budi Sulistijo, beberapa pakar yang hadir diantaranya Prof. Lambok Hutasoit, Dr. Budi Brahmantyo, dan (dari ITB), Dr. Eko Haryono dan Dr. Heru Hendrayana (UGM), Ir. Rudy Suhendar, M.Sc. (Kepala Bidang Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan), Ir. Sukmandaru Prihatmoko, MSc. (IAGI), Rizka, M.T. (LIPI), dan Lana Saria (Ditjen Minerba). Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia, Agung Wihato juga diundang dalam diskusi ini. Diskusi terbagi menjadi 2 sesi, pagi dan siang. Sesi I (pagi) menampilan Narasumber Ahli dari Perguruan Tinggi dan Praktisi Industri Semen, sedangkan sesi dua (siang) menampilkan narasumber dari Instansi Pemerintah dan Organisasi Profesi. Pada kesempatan ini, Narasumber menyatakan bahwa isu air tanah (hidrogeologi) merupakan isu dan masalah yang sangat penting di daerah batugamping dan terutama terkait dengan penambangan batugamping. Dalam kesempatan ini juga banyak disampaikan tentang teori-teori tentang pembentukan batugamping dan teori tentang “karst” yang merupakan bentang alam yang berada pada batugamping, yang mengandung aspek perlindungan sekaligus pemanfaatan. Agung Wiharto menyampaikan, Semen Indonesia sebagai perusahaan persemenan nasional terbesar di Indonesia senantiasa memperhatikan aspek lingkungan dalam aktivitas penambangan. Kegiatan pengelolaan lingkungan bahkan mulai dilakukan sebelum penambangan berlangsung. “Kami membuat green belt selebar 50 meter mengelilingi wilayah tambang untuk penyaring debu dan mencegah kebisingan,” tandasnya. Selain itu, Semen Indonesia juga melakukan reklamasi tanpa menunggu tambang selesai. Metode tersebut disebut dengan block mining system. Hasilnya, lahan pascatambang dapat dikembalikan sesuai dengan rona awal bahkan jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat. Bukti nyata pengelolaan lingkungan tersebut juga diganjar berbagi penghargaan. Salah satu narasumber, Heru Hendrayana menyatakan bahwa seharusnya persoalan ini dikembalikan lagi pada ilmu dasar yang terkait yaitu geologi dan hidrogeologi. Dari ilmu geologi, dapat dipelajari batuan dan prosesnya (wadahnya), dan dari sudut pandang yang paling dasar dari imu geologi dinyatakan bahwa batugamping adalah batuan yang bisa ditambang. Dari aspek hidrogeologi, dipelajari air yang ada dalam batuan (wadah dan isinya), sedangkan dari aspek geologi lingkungan dipelajari dalam upaya untuk memperkecil dampak sesuai syarat dan ketentuan (S&K) yang berlaku. Heru menambahkan, dari filosofi geologi dan hidrogeologi, S&K diperlukan untuk menghitung untung ruginya, dan S&K harus dijalankan secara konsisten sehingga dua sisi antara pemanfaatan dan konservasi akan berimbang. Narasumber lain, Budi Brahmantyo menjelaskan tentang kriteria karst yang ideal menurut beberapa sumber, diantaranya menyatakan bahwa karst terjadi pada batuan tersingkap ke permukaan yang mempunyai daya pelarutan (umumnya batu gamping; bisa terjadi pada dolomit dan kapur/chalk tapi tidak sebaik pada batu gamping), yang umumnya batu gamping murni 80- 98% CaCO3. Sedangkan Eko Haryono, menjelaskan tentang prinsip geokonservasi yaitu mengandung unsur keunikan (uniqueness) dan nilai universal (universal value). Eko juga mengusulkan tentang pendekatan dalam penangangan karst di Indonesia, yang berjenjang mulai dari tingkat pusat, provinsi sampai ke lokasi tapak (site planning), yang bertujuan untuk memperlakukan karst sesuai fungsinya baik fungsi pemanfaatan maupun fungsi perlindungan. (gem)